Selasa, 30 November 2010

Contoh Sistem Pemerintahan Tirani

Membahas Kekuasaan Tirani Partai Komunis China





Tirani diabadikan dalam jepretan kamera : Polisi berseragam dan berpakaian preman menangkap kurang lebih 10 praktisi Falun Gong, yang datang ke Lapangan Tiananmen untuk memohon secara damai supaya penganiayaan terhadap Falun Gong diakhiri, pada tanggal 9 November 2000. (Global Photos/Liaison)

Saat membicarakan tentang tirani, orang Tiongkok akan selalu menghubungkannya dengan Qin Shi Huang (259-210 Sebelum Masehi), Kaisar pertama dari Dinasti Qin, yang memerintah dengan tangan besi, membakar buku-buku filsafat dan mengubur hidup-hidup murid-murid Konghucu. Kebijakan yang dikeluarkan Qin Shi Huang yaitu "mendukung pemerintahannya dengan seluruh sumber daya yang ada dibawah langit" [1] diberlakukan sangat keras pada rakyatnya.
Kebijakan ini mempunyai empat aspek utama yaitu membebankan pajak tinggi, memeras tenaga rakyat untuk proyek yang mengagungkan dirinya, memberlakukan hukuman yang kejam, dan menguasai pikiran rakyat dengan memblokade segala bentuk kebebasan berpikir dan berekspresi, membakar buku-buku dan bahkan mengubur hidup-hidup para intelektual. Di saat pemerintahan Qin Shi Huang, Tiongkok memiliki populasi sebesar 10 juta jiwa, kurang lebih 2 juta darinya dikirim dalam kerja paksa atau 1/3 dari jumlah penduduk usia dewasa. Qin Shi Huang juga memberlakukan hukumnya kepada kalangan intelektual, melarang kebebasan berpikir dalam skala besar. Selama masa pemerintahannya, ribuan murid Konghucu dan pejabat yang mengritik pemerintahannya mati dibunuh.
Dibandingkan dengan kekejaman tirani Dinasti Qin, kekerasan dan kekejaman yang dilakukan Partai Komunis China (PKC) bahkan melebihi beberapa kali lipat. Seperti diketahui umum, filosofi PKC menganut filosofi kontradiksi. Kekuasaan Komunis dibangun dari serangkaian "konflik antar tingkat", "konflik dalam jalur politik", "konflik antar intelektual" terhadap berbagai kalangan dalam dan luar partai. Mao Zedong sendiri pernah berterus terang, "Apa yang Qin Shi Huang perbuat bukanlah sesuatu yang besar. Dia telah mengubur hidup-hidup 460 intelektual, sedangkan kita telah mengubur 46,000 intelektual. Orang memaki kita diktator, adalah Qin Shi Huang, kita mengakuinya karena itu sebuah kenyataan. Sayangnya, yang kalian ceritakan masih tidak cukup, jadi perlu kami tambahkan."
Mari kita melihat kesengsaraan yang dialami Tiongkok selama 55 tahun di bawah kekuasaan PKC, bagaimana setelah PKC merebut kekuasaan, bagaimana mereka menggunakan instansi pemerintah berdasarkan teori konflik antar kelas sosial untuk menjalankan pemusnahan kelas sosial, dan memerintah dengan teror yang merupakan manifestasi dari filosofi revolusi dengan kekerasan. "Membunuh orang" dan "menumpas hati" digunakan untuk menindas segala kepercayaan di luar Partai Komunis. Setelah itu membuat satu gerakan yang menggambarkan Partai Komunis sebagai Kesempurnaan dan Tuhan. Berdasarkan filosofi kontradiksi antar kelas dan revolusi kekerasan, Partai Komunis berusaha menghapus orang-orang yang tidak sepaham dan menentang persamaan kelas sosial, menggunakan kekerasan dan taktik untuk memaksa seluruh rakyat Tiongkok menjadi abdi yang patuh terhadap peraturan tirani.

I. Landreform - Penghapusan Kelas Tuan Tanah

Saat baru tiga bulan berkuasa, Partai Komunis langsung mengadakan landreform secara menyeluruh, dengan slogan "Tanah untuk penggarap" telah membangkitkan sisi keserakahan para petani yang tidak memiliki sawah, mendorong mereka untuk merampas dengan kekerasan dan tanpa mempertimbangkan dampak moral yang diakibatkan oleh tindakan mereka, bahkan juga telah menghasut para petani yang tidak mempunyai lahan untuk menyerang para petani yang memiliki lahan pertanian. Kampanye ini telah menghapuskan secara tegas kelas tuan tanah, dimulai dari pengelompokan populasi penduduk pedesaan ke dalam perbedaan kategori sosial. Lebih dari 20 juta penduduk desa di seluruh Tiongkok dikategorikan sebagai "tuan tanah, petani kaya, kaum pembangkang atau elemen buruk", telah menjadi kelas terendah dalam masyarakat Tiongkok. Orang-orang buangan ini mengalami diskriminasi, penghinaan dan kehilangan hak-hak sipil mereka. Seiring dengan meluasnya program landreform ini sampai ke daerah terpencil dan ke pedesaan suku minoritas, organisasi Partai Komunis juga menyebar dengan pesat. Komite Partai beserta cabangnya tersebar di seluruh pelosok Tiongkok dan didirikan di tingkat pedesaan dan kota praja. Cabang-cabang lokal adalah perpanjangan mulut dari instruksi-instruksi Komite Pusat PKC dan juga sebagai garis depan pertentangan antar kelas, menghasut petani untuk melawan tuan tanah. Hampir 100.000 orang tuan tanah tewas selama gerakan ini. Di beberapa daerah tertentu, PKC dan petani membunuh tuan tanah beserta seluruh keluarganya, tanpa memperdulikan gender atau usia, sebagai jalan untuk memusnahkan secara total kelas tuan tanah.
Pada masa itu, PKC mulai mengeluarkan propaganda pertamanya, yang mendeklarasikan "Pemimpin Mao adalah penolong rakyat" dan "Hanya PKC yang bisa menyelamatkan Tiongkok." Selama masa reformasi ini, para petani yang tidak mempunyai lahan mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan sedikit usaha. Para petani miskin memuji PKC yang telah merubah hidup mereka dan menerima propaganda PKC; begitulah cara mereka mengambil hati rakyat.
Bagi para pemilik baru lahan pertanian, hari-hari keberuntungan "Tanah untuk penggarap" tidak bertahan lama. Dalam jangka dua tahun, PKC mulai mengadakan serentetan gerakan yang dipaksakan di kalangan petani seperti membentuk kelompok-kelompok kolektif, komunitas tingkat dasar, komunitas tingkat tinggi, dan perkumpulan rakyat. Dengan menggunakan kritikan "wanita berkaki kecil" - ditujukan kepada siapa yang lamban langkahnya - PKC mulai menyetir dan menekan, tahun berganti tahun, para petani dihancurkan ke dalam sistem sosialis. Menggunakan satu wadah bagi pembelian dan penjualan beras, kapas dan minyak goreng di seluruh negeri, hasil-hasil pertanian utama dilarang masuk ke pasar perdagangan. Sebagai tambahan, PKC mendirikan sebuah tempat sistem registrasi, tidak mengijinkan para petani pergi ke kota untuk tinggal atau bekerja. Orang yang mempunyai kartu penduduk desa tidak diperbolehkan membeli beras di toko beras negara, dan anak-anak mereka dilarang menerima pendidikan di kota. Anak petani hanya diperbolehkan menjadi petani, merubah 360 juta penduduk desa menjadi warga negara kelas dua diawal tahun 1950-an.
Permulaan tahun 1978, dicanangkan periode "biarkan sebagian orang mulai hidup makmur", tetapi hanya pada lima tahun pertama setelah berpindah dari sistem kolektivisme ke sistem rumah tangga kontrak, pendapatan petani mengalami sedikit kenaikan dan status sosial mereka sedikit lebih baik. Namun, keuntungan kecil ini segera hilang bersamaan maraknya korupsi oleh aparat pedesaan dan akibat dari ketidakseimbangan antar komoditi hasil pertanian dan industri. Sebagai hasilnya, 900 juta petani saat ini sekali lagi terpuruk dalam kemiskinan yang memprihatinkan di saat seluruh penduduk Tiongkok memperoleh peningkatan standar hidup yang lebih baik melalui pembaruan ekonomi nasional. Ketimpangan penghasilan antara penduduk kota dengan desa meningkat drastis dan terus melebar. Tuan-tuan tanah baru dan petani kaya bermunculan untuk menggantikan mereka yang telah dimusnahkan oleh propaganda landreform. Menurut data yang diberikan kantor berita Xinhua, alat propaganda pemerintah, mengindikasikan bahwa sejak tahun 1997, "Pendapatan petani di daerah produksi beras utama dan banyak rumah tangga di pedesaan tetap dan bahkan di beberapa tempat mengalami penurunan." Perbandingan rasio pendapatan penduduk kota dengan desa mengalami kenaikan dari 1.8 dibanding 1 di pertengahan 1980 an menjadi 3.1 dibanding 1 pada saat sekarang ini.

II. Pembaharuan dalam Bidang Industri dan Perdagangan - Menghapus Kelas Kapitalis

Kelas kapitalis yaitu kelompok orang yang menguasai modal yang berada di kota-kota besar dan kecil, juga tidak luput menghadapi kehancuran selama pemerintahan PKC. Ketika mereformasi industri dan perdagangan, PKC mengatakan bahwa kelas kapitalis dan kelas pekerja pada dasarnya tidak sama; yang satu adalah kelas pemeras, satunya lagi adalah kelas non-pemeras atau buruh. Berdasarkan logika ini, kelas kapitalis memang dilahirkan untuk memeras dan tidak akan bisa berhenti sampai mereka dibinasakan; hanya bisa dibinasakan, tidak bisa direformasi. Atas dasar pemahaman ini, PKC menggunakan cara membunuh dan mencuci otak untuk mengubah kaum kapitalis dan pedagang. Kaum kapitalis akan mujur jika mereka sejalan dengan pemerintah, tetapi akan binasa jika mereka menolaknya. Jika kamu menyerahkan semua aset kepada negara dan mendukung PKC, maka akan dianggap sebagai masalah kecil dalam masyarakat. Akan tetapi jika sebaliknya, kamu tidak setuju atau tidak terima dengan kebijakan PKC, kamu akan dianggap sebagai pemberontak dan menjadi target kediktatoran PKC.
Teror yang dilakukan pemerintah selama reformasi ini, membuat kaum kapitalis dan pedagang menyerahkan seluruh asetnya. Banyak di antara mereka tidak tahan menghadapi kenyataan ini dan melakukan bunuh diri. Chen Yi, walikota Shanghai saat itu, selalu bertanya setiap hari, "Berapa banyak pasukan terjun payung yang kita dapatkan hari ini?" yang berkaitan dengan jumlah kaum kapitalis yang melakukan bunuh diri dengan melompat dari atap gedung setiap harinya. Hal ini menunjukkan bagaimana PKC dengan cepat memusnahkan kepemilikan swasta di Tiongkok.
Pada saat melancarkan program landreform dan pembaruan perdagangan, PKC menggerakkan banyak massa untuk melakukan penganiayaan terhadap rakyat Tiongkok. Gerakan ini termasuk: penindasan terhadap "anti revolusi", memasang papan-papan kampanye ideologi komunis, pembersihan kelompok anti PKC yang dipimpin oleh Gao Gang dan Rao Shushi serta menyelidiki kelompok anti revolusi Hu Feng. [3] Dari tahun 1951 sampai tahun 1952, PKC mulai melakukan gerakan yang dinamai "Kampanye Tiga Anti" dan "Kampanye Lima Anti" dengan menyatakan penghapusan korupsi, membuang birokrasi dalam partai, pemerintahan, tentara dan organisasi massa. Bagaimanapun juga yang terjadi sesungguhnya adalah PKC menggunakan gerakan ini untuk menganiaya secara kejam kepada sejumlah besar rakyat yang tidak berdosa.
Dengan memiliki kontrol penuh terhadap sumber-sumber pemerintahan, PKC menggunakan mereka secara maksimal sebagai penghubung Komite Partai, cabang-cabang dan sub-sub cabang disetiap gerakan politik. Berawal dari tiga anggota partai yang membentuk sebuah perjuangan kecil merembet ke seluruh tetangga dan pedesaan. Kekuatan perjuangan ini ada di mana-mana, tidak melewatkan sebutir batu pun untuk tidak menggelinding. Jaringan kontrol yang berurat akar ini merupakan warisan dari perjuangan PKC melawan Jepang dan Kuomintang (Partai Nasionalis, KMT), yang dari dulu telah memainkan peranannya sebagai kunci utama dalam melakukan gerakan-gerakan politik, juga dikemudian hari, termasuk penganiayaan yang terjadi di masyarakat saat ini.

III. Mengambil Tindakan yang Keras Terhadap Kelompok-kelompok Terkenal dan Menindas Agama

Kekejaman lain yang dilakukan oleh PKC yaitu memberikan tekanan keji terhadap kelompok agama (aliran kepercayaan) dan melarang sepenuhnya kelompok-kelompok non pemerintah semenjak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Pada tahun 1950, PKC memerintahkan setiap pemerintah daerah untuk melarang semua aliran kepercayaan yang tidak diakui dan organisasi-organisasi yang dianggap ilegal. Dikatakan bahwa kelompok-kelompok "feodal" bawah tanah merupakan alat perpanjangan tangan dari tuan tanah, petani kaya, kaum pembangkang dan agen khusus KMT, merupakan musuh besar PKC. Dalam melancarkan aksinya, pemerintah menggerakkan kelompok yang mereka percayai untuk mengindentifikasi dan menganiaya anggota kelompok religius. Pemerintah di berbagai tingkat secara langsung terlibat membubarkan "kelompok-kelompok takhayul" seperti komunitas Kristen, Katholik, Tao (khusus aliran Kwan Tao) dan Buddha. Mereka menyuruh semua anggota gereja, kuil dan kelompok religius mendaftarkan diri ke agen-agen pemerintah dan mengaku salah atas aktivitas tidak resmi mereka. Jika tidak maka akan mendapat hukuman yang kejam. Pada tahun 1951, pemerintah secara resmi mengumumkan peraturan ancaman yang mengatakan barang siapa yang melanjutkan aktivitas-aktivitas dalam kelompok yang tidak diakui pemerintah akan menghadapi penjara seumur hidup atau hukuman mati.
Gerakan ini telah menganiaya sejumlah besar rakyat biasa yang percaya dan taat kepada Tuhan. Berdasarkan data yang kurang lengkap, tahun 1950 PKC telah menganiaya, termasuk menghukum mati sedikitnya tiga juta penganut kepercayaan dan kelompok-kelompok yang dianggap ilegal, satu juta di antaranya adalah orang Kristen. PKC juga melakukan pemeriksaan di hampir setiap rumah tangga seluruh negeri dan menginterograsi anggotanya, bahkan patung Dewa Dapur yang disembah oleh petani tradisional Tiongkok pun dihancurkan. Eksekusi ini menguatkan pesan yang disampaikan PKC yaitu ideologi komunis sebagai satu-satunya ideologi dan kepercayaan yang diakui. Konsep semangat "patriotisme" (cinta negara) segera dimunculkan. Konstitusi negara hanya melindungi penganut patriotisme. Sebenarnya tak perduli rakyat percaya agama apa, patokannya hanya ada satu: harus patuh pada pengaturan pemerintah dan mengakui bahwa PKC di atas segala agama dan kepercayaan. Jika anda seorang Kristiani, maka PKC adalah tuhannya Tuhan agama Kristen. Jika anda seorang Budhis, PKC adalah Master Buddha-nya Master Buddha. Sampai di kalangan muslim pun, PKC adalah Allah-nya Allah. Bicara tentang Buddha Hidup (Living Buddha) di agama Buddha Tibet, PKC yang akan menentukan orangnya. Garis dasarnya ialah PKC tidak akan membuat anda mempunyai pilihan, selain berkata dan mengerjakan apa yang PKC suruh katakan dan kerjakan. Para pengikut harus mendasarkan kepercayaan terhadap diri sendiri menjalankan perintah partai, jika tidak demikian, akan menjadi sasaran penghancuran.
Sejumlah 20.000 umat Kristiani telah melakukan penyelidikan di antara 560.000 umat yang berada di rumah-rumah ibadah di 207 kota dan di 22 propinsi. Hasilnya ditemukan bahwa di antara 130.000 jemaat gereja berada dalam pengawasan negara. Pada tahun 1957, PKC telah membunuh lebih dari 11.000 penganut agama, dan yang mengalami penangkapan serta pemerasan uang lebih banyak lagi. Dengan membinasakan kelas tuan tanah, kelas kapitalis, menyiksa sejumlah besar pemuja Tuhan dan mentaatkan rakyat terhadap hukum, telah membersihkan jalan bagi Komunisme menjadi satu-satunya penguasa yang meliputi seluruh wilayah di Tiongkok.

IV. Anti Sayap Kanan - Pencucian Otak Nasional

Pada tahun 1956, sekelompok intelektual Hongaria membentuk Lingkaran Petofi (Petofi Circle) sebagai kritikan terhadap pemerintahan Hongaria dan mereka aktif berpartisipasi di berbagai forum dan perdebatan. Kelompok ini mencetuskan gerakan revolusi nasional Hongaria, yang akhirnya berhasil ditumpas oleh tentara Soviet. Mao Zedong segera mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Pada tahun 1957, Mao mengajak para intelektual Tiongkok dan kelompok non komunis untuk "Membantu PKC membenahi kinerja yang tidak baik." Gerakan ini terkenal dengan slogan "Gerakan Ratusan Bunga" yang merupakan kependekan dari slogan "Biarkan seratus bunga bermekaran dan seratus aliran bersaing suara." Tujuannya adalah membujuk "elemen-elemen anti komunis dalam masyarakat." Dalam suratnya kepada pemimpin-pemimpin Partai Daerah pada tahun 1957, Mao Zedong mengutarakan maksudnya "membujuk ular keluar dari liangnya" dengan memberikan mereka kebebasan mengungkapkan pandangannya untuk membantu Partai Komunis memperbaiki diri.
Slogan-slogan yang ada saat itu sangat mendorong masyarakat untuk berbicara terbuka dan berjanji tidak akan ada pembalasan dendam - Partai Komunis " tidak akan memotong kuncir rambut, tidak akan memukul dengan tongkat, tidak akan memberikan cap predikat negatif dan tidak akan pernah membuat perhitungan setelahnya."[4] Namun pada akhirnya PKC melancarkan gerakan "Anti Sayap Kanan", menyatakan 540,000 orang yang berani berbicara terbuka sebagai "sayap kanan." Di antaranya 270.000 orang kehilangan jabatan di pemerintahan dan 230.000 digolongkan sebagai "sayap kanan tengah" atau "elemen anti sosialis." Taktik yang digunakan Mao Zedong untuk memperdaya orang ada empat cara : (1) membujuk ular keluar dari liangnya ( mengelabui mereka yang beda pendapat untuk berbicara), (2) mengumpulkan kesalahan, serangan mendadak, satu kata menentukan Bumi Langit (menghukum orang tanpa prosedur yang sah), (3) Di depan umum berkata menyelamatkan orang, padahal sebenarnya menyerang orang tanpa ampun, (4) memaksa orang mengritik diri sendiri, hingga terperangkap.
Lalu "kata-kata reaksioner" apa yang menyebabkan begitu banyak sayap kanan dan anti komunis menjadi orang buangan selama 30 tahun di daerah-daerah pinggiran yang miskin? Sejak semula, ada tiga teori pokok anti revolusi yang menjadi sasaran serangan, secara umum dan intensif, dibuat berdasarkan pidato dari Luo Longji, Zhang Bojun dan Chu Anping.
Dilihat secara cermat tujuan dan saran-saran mereka sebenarnya adalah harapan yang cukup ramah.
Luo menyarankan agar membentuk komisi gabungan antara PKC dengan berbagai partai "demokrasi" untuk melakukan pemeriksaan terhadap penyimpangan dalam "Kampanye Tiga Anti" dan "Kampanye Lima Anti", serta gerakan untuk membasmi pemberontakan. Dewan Negara seringkali menyerahkan laporan kepada Komite Konsultasi Politik dan Anggota Kongres untuk memeriksa dan memberikan komentarnya, sedangkan Zhang sendiri menyarankan Komite Konsultasi Politik dan anggota Kongres harus diikut sertakan dalam membuat keputusan.
Sedangkan pendapat Chu yaitu seseorang yang bukan anggota PKC akan tetapi mempunyai ide-ide cemerlang, menjunjung tinggi martabat dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, tidak perlu mendaftar menjadi anggota PKC untuk mengepalai setiap unit kerja, besar atau kecil, atau bahkan kelompok-kelompok yang berada di bawah unit kerja. Juga tidak perlu segala sesuatunya, baik mayor atau minor harus dikerjakan sesuai saran anggota PKC. Ketiga pendapat tersebut menggambarkan kesediaan mereka untuk mengikuti PKC dan tidak satu pun pendapat mereka melampaui garis batas, seperti perkataan seorang penulis dan kritikus terkenal Lu Xun (1881-1936), "Tuanku, jubah anda telah kotor. Mohon dilepas dan hamba akan mencucinya untuk Tuan." Seperti halnya Lu Xun, perkataan mereka sepenuhnya menggambarkan kepatuhan, ketundukan dan penghormatan.
Tidak satu pun pendapat "sayap kanan" mengatakan PKC harus digulingkan, semua yang mereka sarankan adalah kritik yang membangun. Namun dengan arena pendapat-pendapat inilah, maka puluhan ribu masyarakat kehilangan kebebasannya. Selanjutnya ada beberapa gerakan tambahan yang dibuat oleh PKC seperti "menceritakan rahasia pribadi kepada PKC", menggali keluar garis keras, gerakan "Tiga Anti Baru", mengirim para intelektual ke pedalaman untuk kerja paksa, dan menangkap sayap kanan yang lolos di putaran pertama. Siapa pun yang tidak sepaham dengan pemimpin di tempat kerja akan diberi cap sebagai anti PKC . Mereka seringkali menjadi sasaran kritik bulan-bulanan PKC atau mengirim mereka ke kamp kerja paksa untuk mendidik ulang. Kadang kala partai memindahkan seluruh keluarga mereka ke daerah pedesaan, atau melarang anak-anak mereka sekolah di universitas atau bergabung dengan angkatan bersenjata. Mereka tidak boleh melamar pekerjaan di daerah mereka tinggal. Seluruh keluarga akan kehilangan jaminan pekerjaan dan tunjangan kesehatan. Mereka telah dimasukkan kedalam barisan petani dan menjadi orang buangan di antara warga negara kelas dua.
Setelah penganiayaan terhadap para intelektual, beberapa pelajar mempunyai dua kepribadian seperti menjadi rumput di atas tembok, bergerak mengikuti angin. Mereka mengikuti "Matahari Merah" dan menjadi "intelektual-intelektual kontrakan", mengerjakan atau mengatakan apa pun yang diminta PKC. Beberapa diantaranya membuat jarak dari hal-hal yang politis. Intelektual-intelektual Tiongkok yang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap negara, menjadi diam tak bersuara.
MONARKI

Monarki adalah bentuk pemerintahan yang tertua. Garner menyatakan; setiap pemerintahan yang didalamnya menerapkan kekuasaan yang akhir atau tertinggi pada personel atau seseorang, tampa melihat pada sumber sifat – sifat dasar pemilihan dan batas waktu jabatannya maka itulah monarki. Pendapat lain menegaskan, monarki merupakan kehendak atau keputusan seseorang yang akhirnya berlaku dalam segala perkara didalam pemerintahan.

Jellinek menegaskan; monarki adalah pemerintahan kehendak satu fisik dan menekankan bahwa karakteristik sifat – sifat dasar monarki adalah kompetensi, untuk memperlihatkan kekuasaan tertinggi Negara.

Jika raja hanya sebagai gelar saja, sedangkan kekuatan sebenarnya terletak pada oknum lainnya, maka realita pemerintahan ini adalah republik, walau apapun gelar yang diberikan kepada kepala Negara, baik sumber pemilihan atau sifat- sifat dasar dalam masa jabatannya. ( Garner ).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar